Senin, 25 November 2013

Pengemudi Mobil Memacu Kecepatan Hingga 209 mph

Sebuah kecelakaan mengerikan terjadi di Land Speed Racing, El Mirage Dry Lake, California, Amerikan Serikat. Sebelum kecelakaan, pengemudi mobil memacu kecepatan hingga 209 mph atau 336 km/jam.

Dilansir Dailymail, Senin 25 November 2013, rupanya orang yang berada di belakang kemudi tersebut adalah Brian Gillespie. Saat dievakuasi Gillespie hanya menderita luka pada bagian paru-paru dan kepala.

Akibat kejadian tersebut, Honda Insight yang telah dimodifikasi hampir seluruh bagian mobil hancur karena terpelanting dan membentur tanah beberapa kali. Beberapa bagian mobil  mengalami kerusakan sangat parah.

Sebuah video berdurasi satu menit sembilan detik memperlihatkan detik-detik Gillespie hilang kendali hingga akhirnya terpelanting. Sedangkan bodi mobil sudah tidak berbentuk lagi.

Akibat kejadiaan nahas itu, Gillespie dilarikan ke rumah sakit Arrowhead Medical Centre di Colton untuk mendapatkan perawatan.

Selang berapa hari, pihak rumah sakit merilis sebuah pernyataan terkait kondisi korban. "Brian keluar dari rumah sakit kemarin dan merasa jauh lebih baik".

Selasa, 08 Oktober 2013

Malala Yousafzai

Malala Yousafzai, gadis 16 tahun asal Pakistan, masih menjadi sasaran utama kelompok militan Taliban. Menurut Taliban, ideologi Malala yang menginginkan kebebasan bagi wanita berbahaya bagi mereka.

Diberitakan CNN, Senin 7 Oktober 2013, Juru Bicara Taliban, Shahidullah Shahid, mengatakan bahwa Malala masih menjadi incaran lantaran propaganda yang dihembuskannya menentang Taliban. Dia mengatakan, Malala akan diserang lagi jika ada kesempatan.

"Kami tidak menentang Malala, tapi kami menentang ideologinya," kata Shahidullah, saat diwawancara The Telegraph melalui telepon, di lokasi yang tidak diketahui.

"Siapapun yang berkampanye melawan agama dan mengkritik Islam, seperti yang dia lakukan dengan ideologi sekulernya, adalah musuh kami dan kami akan mengincarnya lagi dan lagi," tambahnya.

Malala ditembak di kepala saat berusia 15 tahun pada 9 Oktober 2012. Saat itu, dia tengah berada di dalam bus sekolah di Lembah Swat, Pakistan. Dia berhasil selamat setelah beberapa kali menjalani operasi otak di Inggris.

Wanita berkerudung ini diincar Taliban lantaran tulisannya di blog internet soal pentingnya pendidikan bagi wanita di Lembah Swat. Di lokasi itu, Taliban dengan pemahaman tentang Islamnya yang salah kaprah telah melarang wanita untuk bersekolah.

Berbicara di PBB usai kesembuhannya, tepatnya pada ulangtahunnya yang ke-16, 12 Juli lalu, Malala mengatakan bahwa peluru tidak bisa menghentikannya. Justru akibat peristiwa itu, ujarnya, semakin banyak yang mendukung pendidikan bagi wanita.

Dalam wawancara dengan BBC, dia mengatakan bahwa Taliban telah merusak nama Islam. "Membunuh orang, menyiksa dan mencambuk mereka, itu bertentangan dengan ajaran Islam," kata dia.

Nama Malala masuk dalam salah satu calon penerima Penghargaan Nobel Perdamaian yang akan diumumkan pada Jumat ini. Bukunya berjudul "I am Malala" akan dipublikasikan Selasa ini, dan pada 18 Oktober nanti, gadis yang sekarang tinggal di Inggris ini akan bertemu dengan Ratu Elizabeth di Istana buckhingham.

"Saya akan menjadi politisi di masa depan. Saya ingin mengubah masa depan negara saya dan ingin mewajibkan pendidikan," kata dia.

Kamis, 26 September 2013

Kementerian Perindustrian

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperoleh penghargaan sebagai kementerian terbaik dalam Pemeringkatan e-Government Indonesia (PeGI) bersama-sama dengan Kementerian Keuangan dan Kementerian Pekerjaan Umum.

"Kemenperin terus berupaya agar pemanfaatan teknologi informasi semakin meningkat sehingga kualitas pelayanan kepada masyarakat, pelaku bisnis dan para pemangku kepentingan menjadi semakin baik," kata Wakil Menteri Perindustrian, Alex Retraubun, di Jakarta, Senin.

Alex mengatakan, sistem teknologi informasi dan komunikasi (TIK) tersebut sesungguhnya telah diterapkan oleh Kementerian Perindustrian sejak tahun 1998 lalu, karena teknologi tersebut sangat penting untuk menjamin kelancaran kinerja kementeriannya tersebut.

"Sistem itu terus diperbaiki seiring perkembangan teknologi yang ada," ujar Alex.

PeGI merupakan penghargaan yang dilaksanakan oleh Direktorat e-Governemnt, Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika yang diperuntukkan guna melihat peta kondisi pemanfaatan TIK di tingkat kementerian.

"Kemenperin memiliki keunggulan dalam aplikasi layanan teknologi informasi yang terintegrasi," ujar Alex, yang juga mengatakan bahwa penghargaan tersebut bisa memotivasi Kementerian Perindustrian dan juga kementerian lainnya akan pentingnya pemahaman dan pelaksanaan TIK dalam pelaksanaan tugas.

Dalam pelaksanaannya, Kemenperin berpegang pada pedoman Instruksi Presiden Nomor 3 tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan e-Government, serta Undang-Undang Nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik dan Undang-Undang nomor 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik.

PeGI kali ini diikuti sebanyak 29 kementerian dari 33 kementerian yang ada, dan sebanyak 41,38 persen kementerian berada pada kategori baik, 55,17 persen kementerian pada kategori kurang dan sebanyak 3,45 persen kementerian pada kategori sangat kurang.

Kegiatan tersebut merupakan kerja sama antara Kemkominfo bekerja sama dengan berbagai kalangan seperti unsur komunitas TIK, perguruan tinggi, maupun instansi pemerintah yang terkait. Tujuan diadakannya penghargaan tersebut antara lain memberi acuan pengembangan dan pemanfaatan TIK di lingkungan pemerintah.

Selain itu, mendorong peningkatan pemanfaatan TIK di lingkungan pemerintah melalui evaluasi yang utuh, seimbang, dan obyektif. Serta mendapatkan peta kondisi pemanfaatan TIK di lingkungan pemerintah secara nasional.